Saturday, 17 January 2026

Hilangnya Kesenangan Dimasa Kecil

Lagi – lagi ingatan yang tidak mengenakkan masuk kedalam kepalaku. Ingatan itu memicu kambuhnya perasaan masa lalu yang biasa aku sebut sebagai Luka batin. Padahal aku hanya melihat momen – momen sederhana.

Ketika itu aku banyak melihat anak – anak berlarian sambil tertawa. Mereka tertawa sangat keras hingga terdegar dari jarak yang cukup jauh. Sebenarnya itu hanyalah momen sederhana, Tetapi jarang bisa aku nikmati saat masih anak – anak.

Terkadang Ingatan Itu Muncul Tanpa Aba - Aba

Tumbuh dewasa sambil membawa luka batin itu ternyata berat juga. Ternyata perjuangan di tahun 2025 kemarin belum cukup untuk menyembuhkan luka batin yang sudah lama mengendap didalam hati.

Apa yang sebenarnya harus aku lakukan untuk menyembuhkan luka batin ini ?. Aku jelas tidak mau mengulang seperti tahun 2025 kemarin. Dimana aku lebih banyak menghabiskan waktu untuk menyembuhkan luka batin ku sendiri.

Tahun 2026 ini aku harus bisa dan mampu melepaskan diri dari luka batin ini. Aku harus semangat dalam menjalani hidupku hari ini. Walaupun semangat itu sudah lama kehilangan arah dan tujuannya. 

Orang Lain Bisa Berarti Kita Juga Bisa

Kata – kata itulah yang selalu diucapkan oleh ibuku kepada diriku saat sedang kurang motivasi. Sebenarnya aku bukan kurang motivasi, Tetapi aku memang tidak berminat untuk melakukan kegiatan tersebut.

Kegiatan itu adalah belajar di bidang akademik, Jujur aku bukanlah orang yang kuat secara akademik. Tetapi dibidang lain aku bisa lebih unggul dibandingkan siapapun. Orang tuaku sangat teropsesi dengan bidang akademik.

Niat Mau Jalan - Jalan Malah Jadi Inget Masa Lalu

Jadi aku terus menerus ditekan untuk mampu menguasai bidang akademik tersebut. Karna aku tidak menyukai kegiatan itu maka tidak heran bila aku melakukannya dengan setengah – setangah dan hasilnya pun tidak pernah memuaskan.

Jadi kata – kata “Orang Lain Bisa Berarti Kita Juga Bisa” selalu terucap dari mulut ibuku. Tentu saat itu aku selalu dibanding – bandingkan dengan teman – teman sebayaku. Terutama mereka yang satu kelas denganku.

Kemarahan dan bentakan selalu menjadi hal yang biasa pada saat terima rapot atau pada saat setelah hasil ulangan dibagikan. Di momen – momen seperti itu aku harus bisa memposisikan diri untuk selalu siap dimarahin oleh kedua orang tuaku.

Larangan demi larangan pun diberlakukan oleh kedua orang tuaku. Menurut mereka larangan – larangan tersebut mampu meningkatkan kemampuanku di bidang akademik. Padahal faktanya larangan – larangan itu sama sekali tidak efektif.

Lebih Banyak Menghabiskan Waktu Didalam Kamar Untuk Belajar

Tidak ada perubahan pada nilai – nilai akademikku, tetapi itu sama sekali tidak membuat kedua orang tuaku berfikir dengan cara lain. Larangan – larangan pun diperketat hingga aku tidak boleh bermain sama sekali.

Alhasil aku banyak sekali kehilangan waktu bermain dimasa kecil. Aku lebih banyak menghabiskan waktu dengan belajar dan belajar. Padahal hasilnya bisa dibilang hampir tidak ada sama sekali.

Nilai ulanganku selalu jelek dan mengecewakan, Walaupun aku sudah belajar dengan keras dihari – hari sebelumnya. Tentu saja aku sedih dan sangat kecewa dengan fakta tersebut, Ditambah lagi kedua orang tuaku yang selalu menghukumku.

Hal – hal itu membuat aku menderita dan tertekan sepanjang hari. Aku benar – benar tidak bisa menikmati masa kecilku. Bahkan bisa menonton TV dan bermain bersama teman – teman sudah merupakan kemewahan bagiku.

Tidak Bisa Menikmati Masa Kecil

Pengalaman pahit dimasa kecil itu ternyata meninggalkan perasaan kecewa pada kedua orang tuaku dan perlahan menjadi luka batin di dalam hati ku. Luka itu mengendap didalam hati dalam jangka waktu yang sangat lama.

Hingga perlahan luka batin itu mengering dan aku sendiri sudah melupakan adanya luka batin tersebut. Seiring berjalannya waktu, Luka batin itu pun berubah menjadi dasar caraku bersikap dan berfikir.

Tanpa disadari, hal itu ternyata sangat mempengaruhi Keputusan – Keputusan penting yang aku ambil dihidupku. Aku benar – benar tidak menyangka bahwa luka batin yang aku alami saat masih kecil berdampak sangat serius bagi hidupku saat ini.

Kurangnya apresiasi

Aku memang tidak unggul di bidang akademik, Tetapi aku bisa sangat unggul pada bidang yang lain. Seperti bidang olahraga yang bahkan sampai saat ini aku masih melakukannya. Padahal aku tidak menghasilkan uang dari olahraga tersebut.

Tidak Dihargai Membuat Hati Menjadi Lelah

Dibidang olahraga aku bisa sangat unggul dibanding siapapun. Allah Ta’ala memberikan aku kelebihan untuk bisa berlari lebih cepat dibandingkan siapapun. Kelebihan itulah yang membuatku semangat bila hari itu ada Pelajaran olahraga. 

Bahkan pada saat kelas 6 SD, Aku sempat mendapatkan nilai tertinggi kedua dikelas. Tetapi karna menurut kedua orang tuaku olahraga bukan termasuk dalam bidang akademik, Maka prestasi itu tidaklah membanggakan.

No comments:

Post a Comment