Dahulu aku pernah memiliki sebuah bisnis bersama beberapa teman lama. Bisnisku itu maju dengan cepat dan memperoleh berbagai penghargaan. Bahkan sempat masuk dan dibahas beberapa majalah.
Otomatis keuntungan yang dihasilkan dari bisnisku itu meningkat. Hal yang membuatku semakin bersemangat dalam menjalani bisnis bersama teman – teman ku. Tentu saja itu membuat isi Tabungan rekeningku berbeda dari orang – orang seumuranku.
![]() |
| Mencoba Fokus Mencari Alasan Kuat |
Saat itu aku masih seorang mahasiswa semester 4 dan masih berusia awal 20an. Aku benar – benar bangga pada diriku sendiri. Karna sebelumnya aku harus menghapus cita – citaku untuk menjadi seorang pemain sepak bola professional.
Jadi pencapaianku dari bisnis yang aku Jalani bersama teman – teman itu menjadi pengganti dari cita – citaku sebelumnya. Aku benar – benar menikmati rutinitasku, walaupun hal itu sangat melelahkan bagiku.
Siang dan malam aku bekerja dengan sebaik yang aku bisa. Hal itu aku lakukan agar bisnisku semakin maju dan bisa menjadi kebanggan orang tuaku. Jadi semua aku lakukan dengan hati yang lapang dan Ikhlas.
Tatapan sinis, anggapan remeh dan omongan yang menghina pun tidak aku hiraukan. Aku terus bekerja sebaik mungkin dan maju kedepan. Bagiku menjadi kebanggaan orang tua adalah yang terpenting dan itulah prioritas utamaku.
![]() |
| Mencoba Untuk Tetap Tersenyum Meski Hati Gelisah |
Api semangat pun terus membara didalam hati dan jiwaku, Hingga aku bisa melupakan rasa lelahku. Aku harus menjalani bisnisku dengan sebaik mungkin sekaligus menjalani aktivitasku sebagai seorang mahasiswa.
Saat itu aku merasa bahwa kedua orang tuaku akan bangga dengan prestasi dan pencapaianku dibidang bisnis yang aku Jalani. Walaupun saat itu aku masih belum bisa lulus kuliah seperti harapan kedua orang tuaku.
Tetapi ternyata aku salah, kedua orang tuaku terlihat biasa – biasa saja. Bagi mereka pencapaianku saat itu bukanlah sebuah prestasi atau pencapaian yang pantas untuk dibanggakan.
Tidak Ahli Dalam Bidang Akademik Tetapi Dipaksa Untuk Ahli
Bisa dibilang kedua orang tuaku sangat terobsesi dalam bidang akademik. Mereka akan mengusahakan segala cara demi anak – anaknya bisa berprestasi dibidang akademik. Tetapi takdir mengatakan bahwa aku tidak beruntung dibidang tersebut.
Semua usahaku seakan percuma, Tidak peduli seberapa keras aku berusaha. Hasilnya akan tetap mengecewakan, Seolah – olah aku tidak pernah belajar sama sekali. Aku ingat saat masih duduk dibangku SD dan akan menghadapi ulangan besok.
Malamnya aku belajar dengan keras bersama ibuku hingga larut malam. Aku belajar dengan penuh tekanan dan air mata. Tetapi hasilnya tetap tidak sesuai dengan harapan, Bahkan nilainya seperti orang yang tidak belajar.
![]() |
| Anak Sekecil Itu Sudah Penuh Dengan Tekanan |
Aku benar – benar putus asa dan frustasi, Tetapi kedua orang tuaku tetap tidak peduli dan terus memberikan aku tekanan. Pernah juga saat aku duduk dibangku SMA, Aku belajar seharian dari pagi hingga malam.
Tetapi hasilnya tetap saja mengecewakan, Seolah – olah aku tidak belajar sama sekali. Peristiwa ini terjadi berulang kali selama aku masih sekolah. Tetapi kedua orang tuaku tetap tidak peduli dan terus menekanku untuk belajar lebih keras.
Sampai pada suatu titik Dimana aku sudah tidak tahan dengan tekanan tersebut. Akupun mencari pelarian dan berfikir kelebihan – kelebihan yang aku miliki. Dan pilihan itu jatuh pada bidang olahraga.
Tidak Pernah Mengapresiasi Tetapi Berlagak Seperti Seorang Ahli
Aku memiliki beberapa pencapaian didalam hidupku, Tetapi kedua orang tuaku tidak pernah bangga dengan pencapaianku tersebut. Bahkan pencapaian – pencapaianku itu dianggap tidak pernah ada.
Alasan utamanya adalah karena pencapaian yang aku dapatkan bukanlah bidang akademik. Seperti menjadi rangking satu dikelas atau lulus kuliah menjadi seorang sarjana. Padahal pencapaian ku saat itu sudah bisa membuatku mandiri secara finansial.
Banyak orang seusiaku saat itu masih belum bisa mandiri secara finansial, Sementara aku sudah bisa melakukannya. Hal itu tetap tidak membuat kedua orang tuaku bangga, Dan terus menasehatiku untuk fokus menyelesaikan kuliah.
![]() |
| Mencoba Untuk Tetap Tersenyum Dan Bahagia |
Hingga suatu ketika bisnis yang aku Jalani gagal. Sebenarnya bisa saja aku meneruskan usaha tersebut, Tetapi karna api semangat itu sudah hilang. Aku pun memilih untuk meninggalkan bisnisku tersebut.
Disitu kedua orang tuaku malah sibuk memberikan nasehat yang sebenarnya aku sudah mengetahuinya. Seolah – olah mereka benar – benar mengetahui masalah yang sedang aku hadapi.
Padahal diajak berbicara saja tidak pernah, Malah yang ada adalah percakapan yang menyudutkan dan penghakiman. Kedua orang tuaku tidak pernah memberikanku apresiasi saat aku berhasil, Tetapi selalu mencercaku saat aku gagal.



