Tuesday, 10 February 2026

Melanjutkan Hidup Dengan Mode Zombie

Akhir – akhir ini cuaca sedang tidak stabil dan berubah dengan cepat. Terkadang matahari bersinar sangat terik hingga terasa perih bila mengenai kulit secara langsung. Lalu tiba – tiba berubah gelap dan turun hujan yang sangat deras.

Terkadang saat sedang Santai memandangi sekitar, Aku menyadari bahwa sepertinya kondisi cuaca seperti ini sedang terjadi didalam hatiku. Terkadang muncul sebuah kesempatan, Dan aku pun merespon kesempatan itu dengan semangat dan optimis.

Sinar Senja Yang Memberikan Harapan

Walaupun sebenarnya kesempatan yang datang itu peluangnya sangat tipis. Dan tidak lama setelah itu seketika aku merasa hidupku terasa kosong dan hampa. Perasaan optimis itu dengan cepat berubah menjadi keraguan dan frustasi.

Kesempatan yang baru saja muncul itu menguap dengan cepat. Lalu setelahnya aku lagi – lagi merasa kehilangan arah dalam hidupku. Disinilah mulai muncul sebuah memori yang dahulu pernah aku alami.

Dimana saat itu aku selalu berjuang sebaik dan sekeras yang aku bisa. Tanpa mengenal rasa Lelah aku terus berjuang, Hal itu aku lakukan agar bisa memiliki masa depan yang baik. Aku tidak mau menjadi beban kedua orang tuaku.

Itulah semangat yang membara didalam hatiku, Dan aku selalu berusaha keras untuk menjaga semangat itu tetap membara didalam hatiku. Tetapi pada akhirnya, masa depan yang dahulu aku perjuangkan itu terjadi saat ini.

Berharap Semangat Itu Berkobar Kembali

Aku tetap gagal, semangatku hilang, dan aku kehilangan arah dalam hidupku. Bisa dibilang saat ini aku sedang menjalani hidup dengan benban luka batin, lalu masuk ke mode zombie. Dimana aku tetap bekerja sesuai jobdesk dengan gaji yang rendah.

Bukannya tidak mau bekerja keras, Tetapi memang usaha kerasku kurang dihargai. Padahal hasil yang didapat saat itu cukup memuaskan. Fakta tersebut membuat aku lebih memilih untuk fokus pada jobdesk.

Jadi jika ada hal yang tidak memiliki hubungan langsung dengan jobdesk ku, Maka hal itu aku anggap sebagai sesuatu yang tidak penting. Meski begitu aku tetap berusaha untuk fokus dengan apa yang ada didepan mata.

Aku sudah tidak mau lagi bekerja terlalu keras untuk sesuatu yang tidak pasti. Aku juga sudah tidak ingin memikirkan hal – hal yang akan terjadi dimasa depan. Karna bagiku saat ini, Menjaga hati dan pikiran agar tetap waras sudah cukup menguras tenagaku.

Harapan Dan Kesempatan

Dan menjadi manusia sehat dengan pikiran yang waras sudah cukup membuatku bahagia. Hal itu membuatku tidak perlu lagi membuang – buang energi untuk khawatir dengan apa yang akan terjadi dimasa depan.

Segalanya bisa berubah dengan cepat kearah yang tidak terduga, Entah itu hal baik ataupun buruk. Tentu saja aku selalu berusaha agar hal – hal baiklah yang nantinya akan terjadi. Dan aku akan terus berusaha mewujudkan hal – hal baik tersebut dimasa depan.

Monday, 2 February 2026

Nasehat Yang Terasa Merendahkan Dan Menghakimi

Entah kenapa bagiku, nasehat dari orang tuaku itu terasa seperti menghakimi atau merendahkan diriku. Jujur aku tidak mengetahui kenapa, Tapi setidaknya itulah yang hatiku rasakan saat dinasehati orang tuaku.

Seperti yang sudah aku ceritakan pada artikel sebelumnya tentang ketidakpastian. Aku sudah lama sekali berteman dengan ketidakpastian. Tepatnya pada tahun 2014, Dimana saat itu aku masih sangat bersemangat menjalani hidup ini.

Terkadang Menyendiri Itu Nikmat Juga Ya

Dan saat itu aku terus bekerja keras dan percaya bahwa masa depanku akan lebih baik jika aku bekerja keras. Karna memang orang tuaku selalu mengajarkan aku demikian. Meskipun saat itu aku dipenuhi rasa ketidakpastian.

Dan faktanya, Kehidupan yang aku Jalani saat ini adalah kehidupan yang ingin sekali aku hindari sejak dulu. Memang bulan sudah berganti, Tetapi suasana hati tetap sulit untuk berubah. Karna memang ada luka batin yang harus segera aku sembuhkan.

Tetapi kedua orang tuaku justru melakukan hal yang sama, Yaitu memberikan nasehat. Dimana nasehat yang diberikan tersebut terasa seperti merendahkan dan menghakimi diriku. Hal yang sebenarnya malah membuat luka batinku semakin bertambah.

Jujur di tahun 2025 kemarin, Aku sudah terlalu banyak membuang – buang waktuku untuk menyembuhkan luka batin ini. Dan aku tidak mau lagi membuang banyak waktu untuk melakukan hal yang sama di tahun 2026 ini.

Sepertinya Lebih Baik Menjauh

Aku ingin sekali bergerak maju dan fokus pada kesempatan – kesempatan yang ada didepan. Tetapi sering kali luka batin ini menahanku untuk maju. Disaat yang sama, Bukannya membantu menyembuhkan luka batin yang aku derita ini.

Orang tuaku justru lebih sibuk untuk memberikan nasehat yang terasa menyakitkan bagiku. Ini sudah berlangsung sangat lama didalam hidupku. Hingga aku memutuskan untuk menjauh dari kedua orang tuaku. 

Memang sulit untuk diterima sebagai fakta, Tetapi menurutku itu lebih baik. Dan seiring berjalannya waktu, hatiku terasa lebih ringan. Meskipun menjauh, Tetapi terkadang aku mampir ke rumah orang tuaku.

Saat berada di rumah kedua orang tuaku, Aku tidak berinteraksi dengan mereka. Aku lebih banyak menghabiskan waktu berdiam diri dikamar. Dan sebisa mungkin aku menghindari kontak langsung dengan kedua orang tuaku.

Aku sama sekali tidak menyangka bahwa aku akan melakukan hal semacam ini. Kedua orang tuaku memang masih hidup dan sehat. Tetapi aku merasa tidak ada kehadiran dan kehangatan emosional dengan keduanya.

Menjauh Demi Kesehatan Hati Dan Mental

Sejak dahulu aku memang lebih banyak diam bila sedang berkumpul dengan kedua orang tuaku. Dan saat diam itulah, Kedua orang tuaku mulai menasehati ku dengan cerita – cerita tentang masa lalunya.

Tentu saja cerita – cerita nasehat itu terasa seperti merendahkan dan penghakiman bagiku. Tetapi aku tetap mendengarkannya dengan sukarela, sambil menahan hati yang memang sudah hancur oleh nasehat mereka.

Aku menjalani itu selama bertahun – tahun hingga akhirnya aku merasa muak dan tidak tahan dengan itu semua. Disitulah aku memutuskan untuk mulai menjauh agar tidak mendapatkan nasehat yang terasa seperti merendahkan dan penghakiman bagiku.